Sabtu, 28 November 2009

Macam-macam Skala Pengukuran

Macam-macam Skala Pengukuran

Pengukuran adalah suatu proses dimana suatu angka atau simbol dilekatkan pada karakteristik atau property dengan aturan yang telah ditetapkan. Misalkan responden dapat digambarkan dalam beberapa karakteristik seperti umur, pendidikan, jenis kelamin, pendapatan. Menurut Stevens (1946) skala pengukuran dapat dikelompokan menjadi 4 jenis yaitu,

1. Skala Nominal

Skala ini paling sederhana yang disusun menurut jenis (kategori), misal laki-laki disimbolkan bilangan 1 dan perempuan bilangan 2. Fungsi bilangan hanya berfungsi sebagai symbol untuk membedakan sebuah karakteristik dengan karakteristik lainnya, tanpa nilai intrinsik.. Oleh sebab itu tidak tepat menghitung nilai rata-rata dan standar deviasi jenis kelamin, uji statistik yang cocok adalah yang mendasarkan counting seperti modus dan distribusi frekuensi

Contoh lain:

Jenis kulit: Hitam=1, Kuning=2, Putih=3

Suku daerah: Jawa=1, Batak=2, Dayak=3, Bugis=4, Sasak=5

Agama: Islam=1, Kristen=2, Hindu=3 dan Budha=4

Bilangan 1,2,3 dan seterusnya hanya sebagai simbol atau label saja.

Tes statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik.

2. Skala Ordinal

Skala ini tidak hanya mengkategorikan tetapi juga sudah memberi ranking dari paling tinggi ke rendah atau sebaliknya terhadap kategori. Misal mengukur preferensi responden terhadap empat merk produk air mineral, merk Aqua, Total, MQ dan Aguaria. Responden diminta melakukan ranking terhadap merk produk air mineral dengan member angka 1 untuk merk yang paling disukai, angka 2 untuk ranking kedua dan seterusnya.

Merk air mineral

Ranking

Aqua

1

MQ

2

Total

3

Aguaria

4

Table tersebut menunjukan bahwa merk Aqua lebih disukai dari pada merk MQ dan merk MQ lebih disukai dari pada merk Total. Walaupun begitu perbedaan angka antar merk tidak menggambarkan besar preferensi suatu merk dengan merk lainnya.

Uji statistik yang mungkin adalah modus, median dan distribusi frekuensi.

Tes statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik.

3. Skala Interval

Skala ini menunjukkan jarak antara satu dengan data yang lainnya sama dan memiliki bobot yang sama.

Tes statistik yang digunakan adalah statistik parametrik. Semua uji statistik dapat dilakukan pada data skala ini, kecuali yang mendasarkan rasio seperti koefisiensi variasi.

Contoh;

Standar nilai mahasiswa untuk mencapai indeks prestasi (IP);

Huruf A=4, B=3, C=2, D=1 dan F=0

Nilai tersebut memiliki interval yang sama;

A dengan B berinterval 4-3=1

B dengan C berinterval 3-2=1

C dengan D berinterval 2-1=1 dan

D dengan F berinterval 1-0=1

4. Skala Ratio

Skala ratio memiliki nilai o (nol) mutlak dan memiliki jarak yang sama. Misalkan umur dan berat badan seseorang, ukuran timbangan keduanya tidak memiliki nilai nol negative. Artinya umur dan berat badan tidak mungkin dibawah nol. Data interval dapat membaca umur A dua kali umur B, ungkapan tersebut valid.

Contoh lainnya adalah; tinggi pohon, jarak dua tempat dan nilai ujian.

Tes statistik yang digunakan adalah tes parametrik.

Jumat, 20 November 2009

CEPAT MENYELESAIKAN SKRIPSI

Kebanyak mahasiswa yang terlambat menyelesaikan kuliah bukan karena terhambat dalam menyelesaikan mata kuliah tapi karena terlambat menyelesaikan skripsi.

Skripsi menjadi momok bagi sebagian mahasiswa, dimulai kesulitan mencari tema diikuti judul, teori dan terutama olah data bagi penelitian kuantitatif. Sebenarnya penelitian kuantitatif memiliki kelebihan berupa kesederhanaan kalau tidak bisa dikatakan mudah, penelitian jenis ini memiliki data yang bisa langsung dianalisa karena berupa skala atau angka-angka yang dapat langsung diartikan.

Olah data pada penelitian kuantitatif saat ini sudah banyak dibantu software yang tersedia dipasaran. Software ini akan mempermudah peneliti dalam perhitungan matematika statistik yang sering memerlukan ketelitian dan kesabaran.

Khusus pada penelitian kuantitatif yang harus pertama-tama diperhatikan sebelum menentukan tema dan judul adalah kemungkinan mendapatkan data penelitian. Hal ini penting karena sering terjadi seorang peneliti terhenti ataupun terhambat dalam menyusun karya ilmiah disebabkan kekurangan data primer. Cara tersebut terdengar aneh, sebab penelitian (sebaiknya) dimulai dari adanya masalah untuk dicarikan penyelesaiannya, tapi langkah ini cenderung akan memakan waktu dan biaya lebih besar.

Langkah selanjutnya adalah menentukan tema dan judul serta olah data ataupun perlakuan data agar dapat menjawab rumusan masalah. Jika tahapan ini sudah dilalui tinggal menyusun poin-point data yang akan dicari dan disusun secara sistematis, maka penelitian sudah dapat dikatakan 50% selesai (penulis). Langkah terakhir adalah mengumpulkan data, langkah ini menjadikan penelitian selesai 75%, olah data, analisis dan ditutup dengan mengambil kesimpulan, maka penelitian sudah selesai 100%.

Semoga tips diatas dapat menambah wawasan para calon peneliti. Setidaknya pembaca sudah memulai dengan belajar statistik 50%, 75% dan 100%, he.....

SELAMAT MENCOBA dan SUKSES SELALU.